BANDUNG, (PR).
Meski tahun depan akan didirikan beberapa hotel berbintang di Kota Bandung, para pengusaha hotel melati tidak mengeluhkan maraknya pembangunan hotel. Mereka menilai, hotel melati di Bandung tetap berpeluang memperoleh pangsa pasar, karena hotel melati memiliki segmen pasar tersendiri.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Himpunan Hotel Melati Kota Bandung (Bumi Melati), Doddy H. Widodo, di Bandung, Sabtu (23/8). Menurut dia, pembangunan hotel-hotel berbintang di daerah ini bukan sebagai indikasi ancaman yang akan mematikan usaha hotel melati.
"Kalau bersaing dari segi fasilitas, pasti hotel melati kalah dengan hotel bintang, tetapi dari segi pelayanan kami lebih membumi," tutur Doddy.
Apalagi setahun lalu, katanya pengusaha hotel melati membentuk perhimpunan yang bernama Bumi Melati. "Anggota kami akan diberi pelatihan dan pembenahan agar hotel melati bisa bersaing dengan hotel besar," ujarnya. Untuk lebih, mengayomi anggota bumi melati, maka pada peringatan ulang tahun bumi melati yang diperingati 24 Agustus akan dibentuk koperasi bagi para anggotanya.
Hotel melati sendiri, berdasarkan penilaian dari beberapa kategori yang dilakukan Dinas Pariwisata, diklasifikasikan menjadi tiga jenis. "Hampir setengah dari hotel melati yang ada di Kota Bandung dikelaskan pada hotel melati kelas II sementara hotel melati kelas I hanya 15 persen dan hotel melati kelas III 35 persen dengan kisaran harga kamar per malam sekitar Rp 100.000,00 hingga Rp 500.000,00," ujar Doddy.
Mengenai jumlah wisatawan yang memilih menginap di hotel melati, Doddy menyebutkan, selama satu bulan rata-rata hotel melati terisi sekitar 30 hingga 40 persen. Wisatawan yang memilih menginap di hotel melati, 75% berasal dari Jakarta dan sekitarnya. (CA-182)***
Dikutip dari HU Pikiran Rakyat
0 komentar:
Poskan Komentar